index.php?p=daftar_online

PERPUSTAKAAN STIQ ISY KARIMA

( Read Qur'an Lead The Word ) NPP : 3313082B0000001

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pendaftaran Online
  • Perpanjangan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Ilmu Living Qur'an-Hadis Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi

Text

Ilmu Living Qur'an-Hadis Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi

Dr. Ahmad 'Ubaydi Hasbillah, MA.Hum. - Nama Orang; Muhammad Hanifuddin - Nama Orang;

Meskipun tergolong baru, popularitas kajian Living Qur’an di kalangan para akademisi Indonesia tidak terbantahkan. Ini tampak dari munculnya beragam karya yang mengupas metodologi hingga contoh-contoh riil fenomena LQ di masyarakat. Misalnya Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis karya M. Mansyur, dkk, Ilmu Living Qur’an-Hadis: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi karya Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, dan Living Qur’an: Teks, Praktik, dan Idealitas dalam Performansi Al-Qur’an. Belum lagi tugas akhir baik itu skripsi, tesis, maupun disertasi, dan artikel-artikel jurnal yang semakin membuat diskusi tentang LQ ini ramai dan hangat.

Namun, interview Studi Tafsir baru-baru ini dengan Ahmad Rafiq, pakar LQ UIN Jogja mengungkap bahwa sang dosen meragukan keberadaan karya yang menyediakan fondasi epistemologis dan filosofis untuk LQ.

Buku Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah seperti menjawab tantangan Rafiq ini. Hasbillah meyakini bahwa secara ontologis, ilmu LQ bisa dicari akarnya hingga ke masa Rasul. Ia menjelaskan bagaimana Al-Sunnah al-Hayyah ini terus berevolusi di masa Nabi, sahabat, tabi’in, tabi’ al-Tabi’in, masa pasca mazhab, hingga era kontemporer. Tak tanggung-tanggung, Hasbillah menawarkan LQ sebagai sebuah ilmu baru. Karenanya, ia memerinci bukunya dalam tiga tema besar atas LQ: Kajian ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Kata Living, menurutnya memiliki dua maksud: sesuatu yang hidup (al-ḥayy) atau usaha untuk menghidupkan (al-Ihya’). Dalam bahasa Inggris, Hasbillah mencontohkan frasa “The living Alqur’an“ dan “Living the Qur’an”. LQ dalam istilah pertama, lebih menekankan pada fenomenanya, sedang pada istilah kedua, ia lebih cenderung pada strategi atau teknik pengamalan Alqur’an. Dalam praktiknya, tegas Hasbillah, kedua istilah ini tidak bisa dipisahkan.

Menurut Hasbillah, Ilmu LQ membahas Al-Qur’an yang hidup baik secara material-natural, praktik–personal, maupun non–kognitif. LQ adalah ilmu yang mengkaji tentang gejala-gejala Al-Qur’an di tengah kehidupan umat manusia. Ilmu ini tidak berpretensi untuk menjustifikasi kebenaran suatu praktik atau artikulasi dari suatu ayat al-Qur‘an. Ia adalah upaya untuk memperoleh pengetahuan yang kokoh dan meyakinkan dari suatu budaya, tradisi, ritual, pemikiran atau perilaku hidup di masyarakat yang diinspirasi dari sebuah ayat Alqur’an“.

Dari segi objeknya, Hasbillah membagi kajian LQ menjadi dua: obyek material dan formal. Obyek material yang dimaksud adalah perwujudan Al-Qur’an dalam bentuk non teks. Bisa berupa gambar, multimedia, atau karya budaya, maupun berbentuk pemikiran yang kemudian berwujud lelaku dan perilaku manusia.

Sedangkan objek formalnya adalah sudut pandang menyeluruh tentang perwujudan ayat Al-Qur’an dalam bentuknya yang non teks tersebut. Jadi objek formal ilmu Living Qur’an adalah berupa sosiologi, seni, budaya, sains teknologi, psikologi, dan sebagainya.

Untuk membuktikan bahwa Living Qur’an laik dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, Hasbillah menjelaskan epistemologinya. Pada bagian ini, setidaknya ada beberapa hal penting yang dibahas olehnya. Diantaranya ia memosisikan ilmu LQ dalam rumpun Ulumul Qur’an, dan menjelaskan karakter, paradigma, serta sifat kajian LQ, juga model-model LQ.

Di bagian terakhir bukunya, Hasbillah mengajukan sebuah pertanyaan “untuk apa ilmu Living Qur’an itu ada?, Pentingkah ilmu living Qur’an itu dibangun?”. Menjawab pertanyaan itu, dengan percaya diri, Hasbillah mengidentifikasi kegunaan LQ sebagai media untuk menghidupkan al-Qur’an sebagaimana yang sudah diulas di awal.

Buku yang ditulis oleh Hasbillah ini cukup rinci membahas konstruksi ilmu LQ. Di luar kekurangannya karena terlalu terpaku pada definisi-definisi teknis dalam kajian filsafat ilmu, ia layak dijadikan rujukan dalam penelitian LQ


Ketersediaan
B037442x1.1 HAS iPerpustakaan STIQ Isy Karima (Rak 2x1)Tersedia
B037452x1.1 HAS iPerpustakaan STIQ Isy Karima (Rak 2x1)Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
2x1.1 HAS i
Penerbit
Tanggerang Selatan Banten : Maktabah Darus-Sunnah., 2019
Deskripsi Fisik
xxvi + 365 hlm., 20,5 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-72632-9-1
Klasifikasi
2x1.1
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
1
Subjek
Ilmu-Ilmu Al-Qur'an
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN STIQ ISY KARIMA
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan STIQ Isy Karima adalah perpustakaan yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan literasi di perguruan tinggi.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik